Skip to main content

Posts

Jalan-jalan di Jogja, sholatnya di mana?

Waktu kami tinggal di Jepang, untuk sekedar keluar jalan-jalan kami harus pandai-pandai mengatur waktu. Atau lebih tepatnya mengelola waktu. Jika jaraknya lumayan jauh, dan sholat bisa dijamak, maka itu akan terasa lebih menguntungkan dibandingkan jika hanya pergi jarak beberapa kilometer saja namun karena harus ditempuh dengan naik sepeda maka waktu tempuhnya menjadi lama. Apalagi jika tujuannya adalah main ke mall atau ke taman bermain atau melihat festival, ada banyak pertimbangan yang harus kami lakukan, terutama yang menyangkut dua pertanyaan. Kapan dan di mana sholat?
Kapan? Tentunya saat waktu sholat sudah masuk. Namun, masuknya waktu sholat belum tentu klop dengan kodisi di lapangan. Ini berkaitan dengan pertanyaan kedua, di mana?
Di mana kami akan atau bisa sholat?
Untuk pertanyaan ini, ada banyak pilihan jawaban sebenarnya. Jika posisinya ada di luar ruangan, maka semua sudut parkiran, atau tempat teduh di taman, atau bahkan pinggir sungai yang tenang dapat dijadikan the perfe…
Recent posts

Hujan, dan Doa-doa yang Dikabulkan

(Design picture by Dey Iftinan)
Aku pernah sangat membenci hujan. Aku tidak suka basah dan dingin yang diakibatkan olehnya. Aku juga tidak suka ketika kegiatanku terganggu karena hujan turun, entah itu gerimis maupun hujan deras. Aku selalu bilang, orang-orang yang menyukai hujan, pastilah mereka yang punya mobil untuk bisa kemana-mana, atau mereka yang tak harus kemana-mana karena semua kebutuhannya sudah tercukupi.

Aku pernah membenci hujan.

Aku membenci hujan dua kali lebih besar ketika dia turun di pagi hari, saat aku harus mengantar anak sekolah dan saat semua kegiatan akan dimulai. Susah bukan, jika harus berangkat berhujan-hujan lalu sampai sekolah dengan kebasahan? Itulah kenapa aku membencinya dua kali lipat jika hujan turun di pagi hari.

Dan aku masih membenci hujan.

Aku pun mengutuki hujan yang turun di sore hari, saat berasku habis. Aku harus berkejaran dengan waktu dan juga hujan, untuk pergi ke toko membeli beras, lalu mengayuh sepedaku cepat-cepat menjemput anakku di se…

Jika Harus Mati Listrik di Jepang

Seriiiiing sekali saya membaca status teman-teman di FB yang curcol tentang mati listrik di daerahnya. Ada yang sesekali mengumpat ini itu pada PLN karena mati nya udah kayak minum obat saja, tiga kali sehari. Mb Lis malah pernah nulis puisi curcol karena PLN yang seriiiiiing banget bikin sewot. Semalam salah satu teman yang bermukim di pedalaman Kalimantan juga mengeluhkan karena jadwal mati listrik yang biasanya pukul 24:00 sekarang maju jadi jam 23:00, padahal dia punya bisnis online yang baru bisa dioperasikan setelah anak-anak tidur, alis malam hari. 
Tapi masalah mati mematikan ini bukannya PLN juga sering memberikan pengumuman? Seingat saya dulu waktu masih tinggal di Jogja, kadang ada pengumuman di Radio yang memberi tahu jika besok akan terjadi pemadaman listrik di daerah mana, jam berapa dan (mungkin) akan berlangsung berapa lama. Sering juga pak RT atau pak RW mengumumkan masalah pemadaman listrik lewat corong mushola, biar tangki-tangki air dipenuhi sebelum terjadi pemadama…

Yang jauh (jangan) dirindu, yang dekat (mari) disyukuri

Apa kabar kamu?

Tepat sebulan sudah kami membuka chapter anyar dalam kehidupan kami. Tanggal 24 September, sebulan lalu, saat kaki kami menapaki garbarata pesawat Garuda Indonesia itu, serasa ada suara dari kejauhan yang bilang "Go on to nex page...". Huft udah kayak tes Toefl aja ya gaes..

Sebulan ini, apakah yang dirindukan dari negeri dongen itu, Aeni?

Well, jujur ya, saya belum sempat rindu. Banyak banget hal-hal menggembirakan yang memenuhi relung hati, jadi rindu itu mungkin masih ada di luar. Berusaha mengetuk-ngetuk pintu hati, namun tak saya hiraukan. Apalagi, Nasywa masih mellow gallau. Selama sebulan ini entah sudah berapa kali dia mewek. Mewek pertama itu cuma gara-gara dia nonton Naruto trus soundtrack-nya pakai bahasa Jepang. Kalimat "Ummi...aku tu mau pulang ke Jepang e" meluncur indah, dilanjut dengan butir-butir air mata yang tak bisa lagi dibendung. Padahal itu baru hari ke-2 di Jogja. Bisa dibayangkan lah, hari-hari penuh air mata seperti apa yang…

Mau yang buka pagi atau sore?

Di Jogja, rasanya lebih banyak hal hal yang menginspirasi dan bisa dikisahkan. Waktu awal-awal datang, kira-kira sepekan, ide di kepala menyundul-nyundul liar minta dituliskan secepatnya. Apalah daya, semua masih kacau. Jam biologis masih kacau. Rumah masih kacau. Hari-hari masih berasa seperti dalam mimpi saja.

Setelah sekian hari berjalan, mulai bisa kembali mengikuti ritme harian di Jogja yang menuntut keberanian dan kecepatan (hallah) ide-ide itu mingslep satu-satu. Kalau ya muncul kok pasti pas dalam keadaan tak mungkin. Seperti saat sedang konsentrasi penuh tlusupan di jalan-jalan tikus, yang tak ada tikusnya juga, demi menghindari kemacetan di perempatan atau pas tiba-tiba hujan mak byuk dan ternyata di dalam kabin mio cuma ada mantol celana doang, atasannya entah raib dimana.

Di saat-saat itu, saat ide muncul dan mau nulis, rasanya pingin segera merapat. Tapi di sini, bahkan pinggir jalan pun tak aman dari serangan para bikers. Selama bokong motor masih bisa lewat, se-nggronja…

Kisah Malam Kamis Pahing

Hellow.... sudah hampir sebulan pulang ke pelukan orang-orang terkasih dengan segala cerita seru dan kejutan-kejutan yang mendebarkan tentu saja hehehe. Singkat kata, jangan dibilang ini culture shock ya yes...wong dulu juga jadi hal yang biasa aja. Cuma karena 5 tahun ga bersua dengan kejadian tak terduga ntu, trus latah disebut culture shock. Cuma bikin deg-deg an aja, plus lelah. Namun, se-lelah-lelahnya, karena di sini ada bahu yang siap dijadikan sandaran, ada wajah menggemaskan yang selalu setia mendengarkan setiap keluhan, maka yang begituan bisa jadi lucu-lucuan aja.

Dimulai dengan mendadak habislah quota internet padahal baru beli seminggu. Yah, gimana ga cepet habis kalau gaya berinternetnya masih kayak di Jepang sono. Tiap sekian menit cek fb. Kalau ada video menarik langsung click lihat. Udah gitu settingan WA semua foto dan video masuk langsung didonlot. Hmm...ya bablas mak...orang cuma segiga ini lho jatahmu.

Ok, masalah per-quotaan ini akhirnya bisa disiasati dengan se…

Lain Jogja, lain Yamaguchi

(Kota Yoshida dari atas bukit belakang kampus, lihaaat..ada ARUK di sana)
Kalau tulisan tentang 100 kebiasaan yang akan melekat setelah tinggal sebulan di Jepang dan akan selalu dikenang, itu sudah biasa. Bolehlah sedikit disebutin seperti suka menyimpan sampah di dalam tas, tiba-tiba saat bilang 'terimakasih' gitu sambil membungkuk 15 derajat, dan pas ketemu WC duduk secara otomatis mencari tombol cawik. Dan tentu saja masih banyak yang lainnya.

Di tulisan ini, ada beberapa hal yang, menurut pengalam saya tentu saja, menjadi sesuatu yang biasa aja kalau di sini, padahal kalau di Joga saya malu kalau mau melakukannya. Saya sebut Yamaguchi, bukan Jepang secara general karena takutnya di belahan bumi Jepang yang lain, hal-hal ini tetep saru dan tabu dilakukan di depan orang (banyak). Apakah itu....

Me-nylurup mie sampe bunyi

Hal ini berlaku untuk semua jenis mie, mulai dari mie ayam, mie bakso, udon, soba, mie gelas, mie goreng Indomie, ramen, dan apapun yang ada unsur mie-nya. M…